Polda NTB mengerahkan 991 personel gabungan untuk mengamankan tradisi Lebaran Topat di Lombok. Ribuan warga Sasak dari berbagai penjuru berhamburan ke Pantai Segitiga Emas, Tanjung Aan, dan Kuta Lombok untuk merayakan adat yang kaya makna ini. Pengamanan maksimal ini menjamin kelancaran acara yang dihadiri lebih dari 50.000 peserta.
Lebaran Topat, ritual unik umat Islam Sasak pasca-Idul Fitri, melambangkan syukur panen dan mempererat tali silaturahmi. Masyarakat membawa topat (ketupat khas) untuk dimakan bersama di pantai, diiringi seni tradisional gendang beleq. Namun, di balik kemeriahan, tantangan keamanan selalu mengintai. Untuk dokumentasi lengkap tradisi lokal Indonesia, kunjungi ootorimaru yang mengulas kekayaan budaya kepulauan.
Komposisi personel meliputi 650 Polri, 200 TNI, 100 Satpol PP, dan 41 Dishub. Kapolda NTB Irjen Pol Djoko Poerwanto menekankan pengamanan bertahap sejak H-7, termasuk penyekatan lalu lintas dan patroli pantai. Drone pengintai dan posko komando mobile dipasang untuk monitoring real-time. Tak ada laporan signifikan, hanya 3 kasus mabuk dan 12 pelanggaran lalu lintas yang ditangani.
Meski sukses, pengamat budaya mempertanyakan efektivitas pengamanan “overkill”. Seperti dijelaskan dalam Wikipedia, Lebaran Topat adalah tradisi damai tanpa riwayat konflik massal. “991 personel untuk acara adat damai terasa berlebihan,” kata Dr. Lalu Muhammad IQBAL, pakar antropologi UI. Biaya pengamanan mencapai miliaran, sementara infrastruktur wisata lokal masih minim.
Pemerintah daerah NTB memanfaatkan momentum ini untuk promosi pariwisata. Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah mengajak wisatawan domestik/internasional menyaksikan keunikan Sasak. “Lebaran Topat jadi bukti toleransi beragama Indonesia,” ujarnya. Festival tahun ini tambah atraksi drone light show dan pameran UMKM lokal, tingkatkan pendapatan pedagang 300%.
Keberhasilan pengamanan Lebaran Topat 2026 membuktikan sinergi TNI-Polri efektif jaga stabilitas budaya. Namun, publik menuntut alokasi anggaran lebih proporsional: keamanan secukupnya, pengembangan budaya maksimal. Tradisi seperti ini harus dilestarikan bukan hanya dengan senjata, tapi investasi pendidikan dan ekonomi masyarakat adat.